Kayuagung, Pelopor Sumatera.com — Curah hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sejak awal Januari 2026 mengakibatkan banjir meluas dan merendam ribuan hektare sawah warga. Kondisi ini mengancam keberlangsungan produksi pangan dan mata pencaharian petani di Bumi Bende Seguguk.

Kepala UPTD Balai Pelaksana Penyuluhan Pertanian Kabupaten OKI, Herman, S.Sos, mengungkapkan banjir melanda sejumlah desa di beberapa kecamatan, terutama Lempuing, Lempuing Jaya, Mesuji, Air Sugihan, Jejawi, dan SP Padang.

“Banjir ini menyebabkan aktivitas masyarakat lumpuh dan ribuan hektare sawah petani terendam air,” ujar Herman saat dikonfirmasi di ruang kerjanya, Selasa (13/1/2026).

Berdasarkan data hasil pemutakhiran yang dilakukan penyuluh pertanian di lapangan, pada 10 Januari 2026 tercatat 4.255 hektare sawah terendam banjir. Luasan tersebut meningkat signifikan pada 11 Januari 2026 menjadi 6.047 hektare, dengan wilayah terparah berada di Kecamatan Jejawi seluas 2.584 hektare.

Sementara itu, hingga 12–13 Januari 2026, total sawah yang terendam banjir mencapai 6.551,5 hektare.

“Data ini merupakan laporan terbaru dari 113 tenaga penyuluh pertanian yang tersebar di seluruh kecamatan di OKI dan telah kami laporkan secara daring ke Kementerian Pertanian RI,” jelasnya.

Menurut Herman, sebagian besar sawah terdampak berada di Kecamatan Lempuing, Lempuing Jaya, dan Mesuji. Ketinggian air di sejumlah lokasi bahkan mencapai 1 hingga 1,5 meter, sehingga tanaman padi terendam total.

“Jika air tidak surut dalam waktu tiga hari, padi berpotensi besar mengalami layu, mati, atau puso,” tegasnya.

Ia menambahkan, hingga saat ini debit air masih relatif tinggi sejak 11 Januari lalu, sehingga risiko gagal panen semakin besar.

Sebagai langkah penanganan, Dinas Ketahanan Pangan Tanaman Pangan dan Hortikultura OKI telah menggelar rapat internal bersama para koordinator lapangan (Korlu). Langkah awal yang dilakukan yakni identifikasi luas lahan terdampak serta rencana penyaluran bantuan benih padi bagi petani korban banjir.

“Selain benih, kami juga merencanakan bantuan beras untuk petani dan masyarakat sekitar yang terdampak banjir,” kata Herman.

Ia menjelaskan, sebelumnya pihaknya telah mengimbau petani agar mewaspadai puncak musim hujan pada Januari–Februari serta mendorong pola tanam IP 200 hingga IP 300. Namun, tingginya curah hujan yang diperparah dengan jebolnya tanggul di wilayah Kabupaten OKU turut memperparah banjir di Lempuing dan Lempuing Jaya.

Ke depan, pemerintah daerah juga mengusulkan asuransi pertanian bagi areal persawahan guna mengantisipasi risiko gagal tanam akibat banjir maupun serangan hama.

“Asuransi tani ini sangat penting dan diharapkan bisa menjadi solusi perlindungan bagi petani kita di OKI,” pungkasnya. (*)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *