OKI — Jalan hidup seseorang kerap bermula dari hal-hal sederhana. Bagi Jony Iskandar, S.Pd., M.Si., kecintaan pada bahasa Inggris yang berawal dari aktivitas les privat semasa kuliah justru mengantarkannya menemukan panggilan hidup sebagai pendidik. Perjalanan itu pula yang membawanya dipercaya memimpin sekolah menengah atas negeri di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.
Kisah Jony Iskandar adalah potret perjalanan panjang seorang guru yang tumbuh dari ketekunan, kesabaran, dan keyakinan bahwa pendidikan merupakan kunci perubahan masa depan.
Cinta Bahasa Inggris Sejak Remaja
Ketertarikan Jony Iskandar terhadap bahasa Inggris telah tumbuh sejak ia mengenyam pendidikan menengah atas. Selepas lulus SMA, keinginannya untuk melanjutkan kuliah di jurusan Sastra Bahasa Inggris sudah bulat. Yogyakarta pun sempat menjadi kota impian untuk menimba ilmu.
Namun, keterbatasan ekonomi keluarga menjadi pertimbangan utama. Orang tuanya menyarankan agar Jony tetap kuliah di Palembang demi menekan biaya pendidikan.
“Waktu itu saya sempat kecewa, karena Yogyakarta adalah kota impian saya. Tapi orang tua menyarankan kuliah di Palembang saja agar lebih ringan dari sisi biaya,” kenang Jony.
Kendati Jony Iskandar gagal mewujudkan impiannya kuliah di Pulau Jawa, semangat itu tidak pernah padam. Ia tetap bertekad menempuh pendidikan di jurusan Bahasa Inggris dan akhirnya memilih Universitas Sriwijaya (Unsri).
“Dalam pikiran saya waktu itu sederhana, yang penting tetap di jalur Bahasa Inggris,” ujarnya.
Menariknya, cita-cita kuliah di Pulau Jawa yang belum terwujud dalam hidupnya justru ditempuh oleh kedua anaknya. Anak pertama, Sultan Daris Rahmadiansyah, telah menyelesaikan pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta dan kini bekerja di Yogyakarta. Sementara anak keduanya, Syahrial Iskandar, saat ini masih menempuh pendidikan di Institut Pertanian Bogor (IPB).
Awal Mengajar yang Tak Direncanakan
Menjadi guru bukanlah cita-cita awal Jony Iskandar. Keinginan itu tumbuh secara alami, bahkan tanpa perencanaan.
Saat masih menjadi mahasiswa dan tinggal di rumah kos, anak dari tetangga kos meminta Jony untuk mengajarkan bahasa Inggris. Awalnya ia menolak karena merasa belum cukup percaya diri.
“Awalnya saya menolak. Tapi karena terus diyakinkan, suasananya juga santai—disuguhi kopi dan snack—akhirnya saya mencoba,” tuturnya sambil tersenyum.
Keputusan kecil itu justru menjadi titik balik besar dalam hidupnya. Aktivitas mengajar yang awalnya sekadar membantu, perlahan berubah menjadi pengalaman yang menyenangkan.
Hari demi hari, Jony mulai merasakan kepuasan tersendiri saat melihat anak didiknya memahami pelajaran. Dari satu murid, permintaan les privat pun berkembang ke beberapa siswa lainnya.
Dari Les Privat ke Kursus Bahasa Inggris
Sejak semester awal kuliah, Jony Iskandar rutin mengajar les privat dua kali dalam sepekan. Pengalaman tersebut perlahan membentuk mental dan kepercayaan dirinya sebagai pengajar.
“Lama-lama saya merasa nyaman. Ternyata saya menikmati peran sebagai guru,” ungkapnya.
Seiring waktu, ia memberanikan diri membuka kursus Bahasa Inggris secara mandiri. Murid-muridnya datang dari berbagai latar belakang. Bahkan, menurut informasi yang ia terima, sejumlah mantan muridnya kini bekerja di luar negeri, termasuk di Hongkong.
Pengalaman mengajar sejak usia muda itulah yang menjadi modal penting saat ia memutuskan mengikuti seleksi aparatur sipil negara (ASN).
Gagal Tak Membuat Mundur
Perjalanan menjadi ASN tidak berjalan mulus. Pada 1998, Jony mengikuti seleksi Pegawai Negeri Sipil (PNS), namun belum berhasil.
“Waktu itu saya sempat gagal. Tapi saya anggap sebagai pelajaran,” ujarnya.
Setahun kemudian, ia kembali mencoba. Usaha dan kesabaran akhirnya membuahkan hasil. Pada 1999, Jony Iskandar resmi dinyatakan lulus sebagai PNS.
Ia memulai pengabdian sebagai guru di SMAN 1 Pampangan, kemudian dipindahkan ke SMAN 1 Kayuagung, sebelum kariernya terus berkembang di dunia pendidikan.
Dari Guru ke Kepala Sekolah
Dedikasi dan konsistensinya mengantarkan Jony Iskandar pada amanah yang lebih besar. Ia dipercaya menjabat sebagai Kepala SMAN 1 Mesuji Raya, kemudian kembali ke kampung halaman sebagai Kepala SMAN 1 Pampangan.
Tak berhenti di situ, ia dimutasi menjadi Kepala SMAN 1 Pedamaran Timur, hingga akhirnya dipercaya memimpin SMAN 1 Pedamaran, jabatan yang diembannya hingga saat ini.
Bagi Jony, jabatan bukanlah tujuan utama. Kepemimpinan di sekolah dipandangnya sebagai sarana untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik serta mendorong perubahan pola pikir peserta didik.
Mengubah Mindset, Tantangan Terbesar Pendidikan
Menurut Jony Iskandar, tantangan terbesar dunia pendidikan saat ini bukan semata persoalan fasilitas, melainkan mindset siswa.
“Tidak ada yang tidak bisa kalau mau belajar. Tidak ada kata sulit kalau ada kemauan. Di situ pasti ada jalan,” tegasnya.
Ia meyakini pendidikan bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi juga membangun karakter, kepercayaan diri, dan semangat belajar sepanjang hayat.
Pendidikan sebagai Jalan Kehidupan
Bagi Jony Iskandar, profesi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan panggilan jiwa. Ia percaya ilmu pengetahuan adalah jalan untuk meningkatkan derajat manusia.
“Bukankah Tuhan Yang Maha Esa juga berjanji akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu,” ujarnya.
Kisah hidup Jony Iskandar menjadi pengingat bahwa pengabdian di dunia pendidikan sering kali lahir dari langkah-langkah kecil yang dijalani dengan ketulusan. Dari les privat sederhana di rumah kos, ia menapaki jalan panjang sebagai pendidik dan pemimpin sekolah—mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan generasi penerus bangsa. (*)
