OKI, Pelopor Sumatera.com – Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel), H Herman Deru bersama Bupati Ogan Komering Ilir (OKI), Muchendi Mahzareki bermalam di posko penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Jungkal, Kecamatan Pampangan, Sabtu (11/10/2026) malam. Keduanya hadir untuk menyemangati petugas yang masih berjibaku memadamkan api di tengah kemarau panjang dan kepungan asap.
Di posko tersebut, Herman Deru dan Muchendi berdialog langsung dengan personel Satuan Tugas (Satgas) Karhutla. Mereka mendengarkan laporan perkembangan pemadaman, kendala di lapangan, hingga kebutuhan tambahan untuk mendukung operasi penanganan kebakaran.
Deru mengatakan, keputusannya bermalam di posko merupakan bentuk perhatian pemerintah kepada petugas yang bekerja dalam kondisi sulit. Selain memberikan dukungan moril, pemerintah juga menyalurkan bantuan sembako dan kebutuhan lainnya bagi personel di lapangan.
“Dengan begitu, mereka tahu kami juga memperhatikan dengan cara malam ini menginap di sini,” kata Deru.
Suasana kebersamaan terlihat ketika Gubernur dan Bupati makan malam bersama petugas di depan tenda posko. Dalam kesempatan itu, keduanya juga menyerap aspirasi petugas terkait tantangan pemadaman karhutla di wilayah tersebut.
Herman Deru mengatakan, penanganan karhutla membutuhkan kerja sama dan gotong royong seluruh pihak. Kemarau berkepanjangan, yang menurutnya diperparah fenomena El Nino, membuat upaya pemadaman semakin berat.
Menurut Deru, Desa Jungkal telah sekitar tiga bulan tidak diguyur hujan. Hujan terakhir disebut terjadi pada 27 Juni. Kondisi ini menyebabkan sawah dan sumur mengering, debit air sungai menyusut, serta vegetasi menjadi lebih mudah terbakar.
Risiko semakin tinggi di kawasan lahan gambut. Api dapat menjalar di permukaan maupun membara di bawah tanah sehingga membutuhkan penanganan intensif dan pemantauan berkelanjutan.
“Kita harus sikapi ini dengan teguh tapi sabar serta terus berikhtiar,” ujar Deru.
Dia mengimbau masyarakat menghentikan sementara aktivitas pembakaran lahan untuk mencegah munculnya titik api baru.
“Jadi sekarang stop dulu membakar. Kasihan dengan Manggala Agni, MPA, TNI dan Polri yang saat ini masih berjuang di lapangan memadamkan api,” katanya.
Deru juga mengingatkan masyarakat agar mewaspadai ranting, daun kering, dan material lain yang mudah terbakar selama kondisi lingkungan masih kering.
Desa Jungkal menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten OKI.
Berdasarkan data pemantauan yang disampaikan saat kunjungan, terdeteksi 47 titik panas (hotspot) dan sembilan titik api (firespot) di wilayah tersebut.
Deru menyebut Kabupaten OKI sebagai salah satu daerah dengan jumlah titik panas dan titik api terbanyak saat ini. Luasnya kawasan lahan gambut turut meningkatkan risiko kebakaran, terutama saat curah hujan rendah dan vegetasi mengering.
Sementara itu, Bupati OKI Muchendi Mahzareki mengatakan, Desa Jungkal masih menghadapi persoalan titik panas dan kepulan asap, khususnya di kawasan perbatasan dengan Kecamatan Pangkalan Lampam.
Muchendi menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang terdampak asap. Ia memastikan pemerintah kabupaten akan berupaya maksimal menangani kebakaran dan mengurangi dampaknya.
“Saya minta maaf dan akan berusaha semaksimal mungkin untuk mengatasi kondisi asap saat ini,” ujar Muchendi.
Upaya pemadaman karhutla di OKI menghadapi kendala operasional. Helikopter untuk pengeboman air atau water bombing belum dapat mengudara karena jarak pandang yang rendah.
Padahal, pemadaman dari udara dibutuhkan untuk membantu menjangkau titik kebakaran yang sulit diakses melalui jalur darat.
Di sisi lain, angin yang berembus ke arah utara membawa asap dari wilayah OKI menuju Kota Palembang. Dampaknya, kabut asap berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat di luar wilayah kebakaran.
Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya pencegahan karhutla, terutama dengan menghentikan pembakaran lahan, meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat, serta memperkuat koordinasi petugas di lapangan.
Penanganan karhutla membutuhkan dukungan semua pihak. Masyarakat diharapkan segera melaporkan kemunculan api atau asap kepada petugas setempat agar dapat ditangani sedini mungkin sebelum meluas. (*)
Penulis : Tabroni/ Real
Editor : Syakbanudin
