Kayuagung, Pelopor Sumatera.com – Di tengah peringatan pemerintah dan prediksi cuaca dari BMKG terkait potensi El Nino serta musim kemarau pada tahun 2026, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) justru menunjukkan optimisme tinggi dalam menjaga ketahanan pangan. Bahkan, daerah lumbung pangan terbesar di Sumatera Selatan (Sumsel) ini, menargetkan penanaman padi hingga 110 ribu hektare, angka tertinggi yang belum pernah dibebankan kepada daerah tersebut.
Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan dan Hortikultura (KPTPH) Kabupaten OKI, Ir. Sahrul, M.Si, menegaskan bahwa ancaman El Nino tidak akan menghambat upaya peningkatan produksi padi di wilayahnya.
“Kami tetap optimis target produksi padi dapat tercapai. OKI memiliki keunggulan karena didukung empat tipologi lahan pertanian, yaitu lahan lebak, pasang surut, tadah hujan, dan irigasi,” ujar Sahrul.
Menurutnya, fenomena El Nino justru berpotensi memberikan keuntungan bagi sebagian wilayah pertanian, khususnya lahan lebak yang selama ini sering terendam banjir.
“Lahan lebak yang biasanya tergenang air akan lebih cepat mengering saat El Nino. Kondisi ini justru membuka peluang percepatan tanam dan peningkatan luas tanam padi,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi kekurangan air, Pemkab OKI telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi. Di kawasan lahan lebak Desa Pematang, Kecamatan Mesuji, misalnya, pemerintah telah menyediakan sumur bor sebagai sumber irigasi alternatif.
Selain itu, apabila kemarau berlangsung panjang dan debit air menurun, petani akan dibantu dengan pompa air yang ditempatkan di sepanjang aliran sungai.
“Kementerian Pertanian RI juga telah meminta petani mengajukan proposal bantuan pompa air. Program ini menjadi salah satu langkah strategis untuk menjaga produktivitas sawah selama musim kemarau,” katanya.
Sementara untuk wilayah pertanian tadah hujan, petani akan memanfaatkan sumur bor bantuan pemerintah yang telah tersedia di sejumlah lokasi guna menghindari risiko gagal panen.
Target Terbesar di Sumsel
Sahrul mengungkapkan, target penanaman padi OKI tahun 2026 mencapai sekitar 110 ribu hektare, menjadikannya target terbesar di Sumatera Selatan.
“Ini merupakan target yang sangat besar. Sebelumnya luas tanam berkisar 56 ribu hektare. Tahun ini kita didorong untuk meningkatkan produksi secara signifikan demi mendukung program swasembada pangan nasional,” ungkapnya.
Meski demikian, dia mengakui terdapat sejumlah faktor yang dapat memengaruhi capaian target, terutama terkait kondisi lahan lebak.
“Kalau lahan lebak cepat kering, petani bisa segera menanam. Tetapi jika surutnya lambat, tentu ada kendala. Namun secara keseluruhan kami tetap optimis produksi padi OKI tetap terjaga meski menghadapi El Nino,” tegasnya.
Penyuluh Pertanian Dikerahkan Hingga Desa
Sebagai bentuk keseriusan menghadapi musim kemarau, Dinas KPTPH OKI juga terus melakukan sosialisasi dan pendampingan kepada kelompok tani. Salah satunya melalui kegiatan launching percepatan tanam yang sebelumnya digelar di Desa Cahaya Bumi, Kecamatan Lempuing.
Penyuluh pertanian lapangan (PPL) bahkan diberikan target khusus sesuai wilayah kerjanya masing-masing.
“Kami sudah membagi tugas kepada para penyuluh. Mereka bertanggung jawab mengawal target produksi di desa-desa binaan. Mulai dari ketersediaan benih, pengelolaan air hingga pendampingan petani terus kami lakukan,” terang Sahrul.
Dengan berbagai strategi yang telah disiapkan, Pemkab OKI optimistis dapat mempertahankan posisinya sebagai salah satu sentra produksi padi terbesar di Sumatera Selatan sekaligus berkontribusi dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah ancaman perubahan iklim dan El Nino 2026. (sbn)
