Penulis: Syakbanudin

LEMPUING JAYA, Pelopor Sumatera.com – Suasana penuh semangat dan antusiasme mewarnai hari terakhir kegiatan Forum Ta’aruf dan Silaturahmi (Fortasi) di SMK Al-Kautsar Sriwijaya dan SMP Muhammadiyah  Lempuing, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI). Ratusan siswa mengikuti kegiatan edukatif yang dipusatkan di halaman sekolah dengan tema “Menjadi Pelajar Cerdas, Beradab, dan Aman di Ruang Digital.”

Materi Fortasi kali ini disampaikan oleh Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Kayuagung, Syakbanudin, M.I.Kom, yang mengajak para pelajar untuk memanfaatkan media sosial secara bijak serta memahami berbagai tantangan di era digital, mulai dari kecanduan game online, penyebaran hoaks, perundungan siber (cyberbullying), hingga pentingnya menjaga keamanan data pribadi.

Dalam paparannya, Syakbanudin menegaskan bahwa dunia digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda. Teknologi mampu membuka akses belajar tanpa batas, memperluas wawasan, serta menjadi wadah berkreasi. Namun, jika digunakan tanpa kontrol, media digital juga dapat membawa dampak negatif yang serius.

“Media sosial ibarat pisau bermata dua. Jika digunakan dengan benar akan membawa banyak manfaat, tetapi jika disalahgunakan dapat merusak masa depan. Jadilah generasi yang cerdas dalam menggunakan teknologi, bukan generasi yang diperbudak teknologi,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa literasi digital merupakan bekal penting bagi pelajar untuk menghadapi tantangan zaman. Kemampuan memilah informasi, mengenali berita bohong, berpikir kritis, dan menggunakan internet secara produktif akan menjadi modal besar dalam dunia pendidikan maupun karier di masa depan.

Selain itu, ia mengingatkan bahaya kecanduan game online yang saat ini menjadi salah satu persoalan serius di kalangan remaja. Dampaknya bukan hanya menurunkan prestasi belajar, tetapi juga mengganggu kesehatan fisik, kualitas tidur, konsentrasi, hingga hubungan sosial dengan keluarga dan teman.

“Jika waktu bermain game lebih banyak daripada waktu belajar, beribadah, dan berinteraksi dengan keluarga, maka itu harus menjadi alarm bagi diri sendiri,” katanya.

Sebagai langkah pencegahan, para siswa diajak mengatur waktu penggunaan gawai secara seimbang, memprioritaskan belajar, aktif mengikuti kegiatan olahraga maupun ekstrakurikuler, serta memanfaatkan teknologi untuk kegiatan yang menghasilkan prestasi.

Tak hanya membahas literasi digital, Syakbanudin juga mengingatkan pentingnya keadaban digital (digital civility). Menurutnya, etika di dunia maya sama pentingnya dengan etika dalam kehidupan sehari-hari. Pelajar harus membiasakan menggunakan bahasa yang santun, menghargai perbedaan pendapat, tidak melakukan perundungan siber, tidak menyebarkan ujaran kebencian, serta tidak mengunggah foto maupun video orang lain tanpa izin.

“Jejak digital tidak pernah benar-benar hilang. Apa yang kita unggah hari ini bisa menentukan masa depan kita. Karena itu, pikirkan dahulu sebelum memposting sesuatu di media sosial,” pesannya.

Pada kesempatan tersebut, peserta juga dibekali pemahaman mengenai keamanan digital, seperti pentingnya menjaga kerahasiaan password, tidak membagikan kode OTP kepada siapa pun, mengaktifkan verifikasi dua langkah, menghindari tautan mencurigakan, serta segera melaporkan akun atau konten yang berpotensi merugikan.

Materi yang dikemas secara interaktif melalui diskusi, tanya jawab, serta contoh kasus yang dekat dengan kehidupan remaja membuat para peserta Fortasi terlihat aktif dan antusias. Banyak siswa mengajukan pertanyaan mengenai penggunaan media sosial yang sehat, bahaya penipuan online, hingga cara membangun citra positif di dunia digital.

Pihak sekolah mengapresiasi penyampaian materi yang dinilai sangat relevan dengan tantangan yang dihadapi pelajar saat ini. Edukasi seperti ini diharapkan mampu membentuk karakter peserta didik yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga bijak, beretika, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.

Menutup sesi Fortasi, Syakbanudin mengajak seluruh peserta menjadi pelopor literasi digital di lingkungan sekolah maupun keluarga.

“Gunakan teknologi untuk belajar, berkarya, berprestasi, dan menginspirasi. Jadilah generasi yang cerdas, beradab, serta aman di ruang digital, karena masa depan kalian dimulai dari jejak digital yang kalian bangun hari ini,” pungkasnya. (*)

By Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *