Oleh: Sapta Yuliansyah, M.I.Kom.
Dosen STISIPOL Candradimuka Palembang
Transformasi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat, termasuk dunia pendidikan tinggi. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam proses pembelajaran, akses terhadap sumber pengetahuan, hingga kolaborasi akademik. Mahasiswa sebagai kelompok usia yang paling intensif memanfaatkan internet berada pada posisi strategis sebagai aktor utama dalam ekosistem digital tersebut.
Di Kota Palembang, perkembangan infrastruktur digital dan akses internet menunjukkan tren yang semakin baik. Kondisi ini memberikan peluang besar bagi perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis teknologi. Namun demikian, kemajuan infrastruktur digital belum sepenuhnya berbanding lurus dengan peningkatan kualitas literasi digital mahasiswa, terutama dalam aspek berpikir kritis, verifikasi informasi, etika digital, serta pemanfaatan teknologi secara produktif.
Sumatera Selatan Menunjukkan Kemajuan Digital
Data Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) 2025 memperlihatkan capaian yang menggembirakan bagi Provinsi Sumatera Selatan. Provinsi ini berhasil meningkatkan posisinya dari peringkat ke-33 menjadi peringkat ke-18 dari 38 provinsi di Indonesia. Peningkatan tersebut menunjukkan adanya perkembangan signifikan dalam pembangunan ekosistem digital di daerah.
Capaian tersebut juga menjadi salah satu indikator keberhasilan yang diangkat dalam Festival Literasi Sumatera Selatan V bertema “Literasi Berkelanjutan Menuju Generasi Emas”. Tema tersebut menegaskan bahwa literasi pada era digital tidak lagi dimaknai sebatas kemampuan membaca dan menulis, tetapi telah berkembang menjadi kemampuan mengakses, memahami, mengevaluasi, serta memanfaatkan informasi secara bertanggung jawab melalui berbagai platform digital.
Secara lebih spesifik, Kota Palembang menjadi daerah dengan daya saing digital tertinggi di Provinsi Sumatera Selatan. Berdasarkan Indeks Daya Saing Daerah (IDSD) 2025, Kota Palembang memperoleh skor 4,23, lebih tinggi dibandingkan beberapa kota besar lainnya di kawasan Sumatera. Bahkan, pada aspek Adopsi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) serta Pasar Produk dan Ukuran Pasar, Palembang memperoleh skor maksimal sebesar 5,00. Capaian tersebut menunjukkan bahwa fondasi digital di kota ini telah berkembang dengan cukup baik sebagai penunjang aktivitas pendidikan tinggi.
Potret Literasi Digital Mahasiswa
Berbagai penelitian akademik menunjukkan bahwa mahasiswa di Kota Palembang memiliki kemampuan literasi digital yang relatif baik. Salah satu penelitian menemukan bahwa tingkat literasi digital mahasiswa mencapai nilai rata-rata 3,95 pada skala pengukuran yang digunakan. Temuan tersebut mengindikasikan bahwa mahasiswa telah mampu memanfaatkan berbagai sumber informasi digital dalam menunjang aktivitas akademik, mulai dari pencarian referensi, komunikasi pembelajaran, hingga penggunaan berbagai aplikasi pendidikan.
Namun demikian, capaian tersebut belum sepenuhnya menggambarkan kualitas literasi digital yang komprehensif. Hasil penelitian lain yang dipresentasikan dalam seminar nasional di Universitas PGRI Palembang mengungkapkan bahwa literasi digital Generasi Z secara nasional masih berada pada kategori sedang, dengan indeks sebesar 57,5 persen berdasarkan survei Katadata Insight Center bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa penguasaan teknologi belum selalu diikuti oleh kemampuan berpikir kritis dalam menyaring informasi. Empat dimensi literasi digital yang masih memerlukan penguatan meliputi keterampilan digital (digital skills), etika digital (digital ethics), keamanan digital (digital safety), serta budaya digital (digital culture). Keempat aspek tersebut merupakan fondasi penting dalam membangun masyarakat digital yang cerdas dan bertanggung jawab.
Pemberdayaan Digital Masih Menjadi Tantangan
Salah satu temuan penting dalam IMDI 2025 adalah masih rendahnya capaian pada pilar pemberdayaan digital. Dari empat pilar utama yang diukur, infrastruktur dan ekosistem memperoleh skor tertinggi sebesar 53,06, sedangkan pemberdayaan digital hanya mencapai skor 34,32.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa pembangunan fisik dan akses teknologi berjalan lebih cepat dibandingkan pembangunan kapasitas sumber daya manusia. Kondisi serupa juga terlihat di lingkungan perguruan tinggi di Palembang. Mahasiswa relatif mudah mengakses internet dan memanfaatkan berbagai perangkat digital, tetapi belum seluruhnya mampu menggunakan teknologi tersebut secara optimal untuk mendukung penelitian, menghasilkan karya ilmiah, melakukan analisis data, maupun memverifikasi informasi secara kritis.
Di tengah derasnya arus informasi digital, kemampuan membedakan informasi yang valid dengan hoaks menjadi kompetensi yang semakin penting. Literasi digital tidak cukup hanya diukur dari kemampuan mengoperasikan perangkat teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir analitis, melakukan evaluasi terhadap sumber informasi, memahami etika komunikasi digital, serta menjaga keamanan data pribadi.
Peran Perguruan Tinggi dalam Penguatan Literasi Digital
Upaya penguatan literasi digital memerlukan sinergi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, serta masyarakat. Pemerintah Kota Palembang telah menunjukkan komitmennya melalui berbagai program literasi, termasuk pengukuhan Bunda Literasi Kota Palembang periode 2025–2030 sebagai bagian dari penguatan gerakan literasi yang mencakup literasi baca tulis, digital, budaya, maupun finansial.
Di sisi lain, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab strategis dalam menghasilkan lulusan yang tidak hanya melek teknologi (technology literate), tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis (critical thinking), kecakapan informasi (information literacy), dan etika digital (digital citizenship). Integrasi literasi digital ke dalam kurikulum, pembelajaran berbasis proyek, penelitian, serta pengabdian kepada masyarakat menjadi langkah penting dalam membangun kompetensi tersebut.
Penutup
Peningkatan peringkat digital Provinsi Sumatera Selatan serta tingginya daya saing digital Kota Palembang merupakan modal yang sangat berharga dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi. Akan tetapi, keberhasilan tersebut hendaknya tidak hanya diukur dari tersedianya infrastruktur digital atau tingginya tingkat penggunaan internet.
Tantangan yang sesungguhnya adalah bagaimana membentuk mahasiswa yang mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas, kritis, kreatif, dan bertanggung jawab. Literasi digital harus dipahami sebagai kompetensi abad ke-21 yang tidak hanya menekankan kemampuan mengakses informasi, tetapi juga kemampuan mengolah, mengevaluasi, menciptakan pengetahuan, serta berpartisipasi secara etis dalam ruang digital. (*)
