Penulis: Syakbanudin

Kayuagung, Pelopor Sumatera.com – Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) tidak hanya perlu diwaspadai saat musim hujan. Memasuki musim kemarau, Puskesmas Kutaraya, Kecamatan Kota Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), tetap menggencarkan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sebagai langkah pencegahan penyebaran penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti tersebut.

Upaya pencegahan dilakukan dengan melibatkan masyarakat, pemerintah desa dan kelurahan serta berbagai unsur terkait di wilayah kerja Puskesmas Kutaraya.

Kepala Puskesmas Kutaraya, Candrawati, S.Kep., Ners, melalui staf Puskesmas Kutaraya, Irhan Jumarso, mengatakan wilayah kerja Puskesmas Kutaraya mencakup 10 kelurahan di Kecamatan Kota Kayuagung dan lima desa.

Menurutnya, kondisi cuaca tidak bisa dijadikan alasan bagi masyarakat untuk mengurangi kewaspadaan terhadap DBD. Sebab, meskipun musim kemarau, kasus DBD tetap berpotensi terjadi.

“Penyakit DBD ini tidak tergantung cuaca. Memang jika musim hujan tiba, perkembangbiakan nyamuk bisa lebih cepat. Namun demikian, saat cuaca panas pun masih dapat ditemukan penyakit DBD,” ujar Irhan Jumarso saat diwawancarai media ini di Puskesmas Kutaraya, Rabu (5/8/2026).

Ia menjelaskan, keberadaan nyamuk penyebab DBD sangat berkaitan dengan kondisi lingkungan, terutama adanya tempat yang dapat menampung air dan menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk.

Karena itu, menurut Irhan, masyarakat perlu tetap melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin tanpa menunggu munculnya kasus DBD terlebih dahulu.

DBD Bisa Terjadi Akibat Mobilitas Warga

 

Irhan juga mengingatkan bahwa munculnya kasus DBD di suatu lingkungan tidak selalu berarti nyamuk penyebab penyakit tersebut berkembang biak di lingkungan tempat tinggal penderita.

Seseorang bisa saja terpapar ketika melakukan perjalanan atau beraktivitas di daerah lain yang memiliki kasus DBD, kemudian kembali ke lingkungan tempat tinggalnya.

“Terkadang kendati tidak terdampak di wilayah kerja atau pemukiman warga, mereka juga bisa terserang penyakit DBD setelah bepergian ke daerah lain,” jelasnya.

Kondisi tersebut, lanjutnya, menjadi salah satu alasan pentingnya menjaga kewaspadaan secara berkelanjutan.

Puskesmas Kutaraya pun terus mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan fogging ketika ditemukan kasus. Upaya pencegahan harus dimulai dari lingkungan rumah masing-masing.

Dorong Gerakan Jumat Bersih

Sebagai bagian dari upaya pencegahan, Puskesmas Kutaraya turut mendorong kegiatan kebersihan lingkungan melalui program Jumat Bersih atau OKI Lestari.

Kegiatan tersebut melibatkan kepala desa, lurah serta masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Kutaraya.

Menurut Irhan, keterlibatan masyarakat menjadi kunci utama dalam memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD.

“Kami terus mengimbau untuk menjaga kebersihan lingkungan. Kami juga telah melaksanakan program Jumat Bersih atau OKI Lestari yang melibatkan kepala desa, lurah dan masyarakat yang ada di wilayah kerja Puskesmas Kutaraya,” katanya.

Ia menambahkan, lingkungan yang bersih tidak hanya memberikan manfaat bagi pencegahan DBD, tetapi juga dapat meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat secara umum.

Masyarakat diminta rutin memeriksa lingkungan sekitar rumah, khususnya tempat-tempat yang berpotensi menampung air.

Sosialisasi DBD Terus Dilakukan

Selain kegiatan PSN, Puskesmas Kutaraya juga aktif melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya DBD dan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.

Sosialisasi dilakukan melalui penyampaian langsung kepada masyarakat maupun pemasangan spanduk imbauan di sejumlah lokasi.

“Kami juga melakukan imbauan dan sosialisasi kepada masyarakat melalui spanduk di beberapa titik agar masyarakat menjaga kebersihan dan tetap waspada terhadap penyakit DBD,” ungkap Irhan.

Ia berharap pesan tersebut dapat meningkatkan kesadaran masyarakat sehingga pencegahan DBD tidak hanya dilakukan ketika terjadi kasus, tetapi menjadi kebiasaan sehari-hari.

Siapkan Abate dan Fogging

Puskesmas Kutaraya juga menyiapkan langkah penanganan apabila ditemukan kasus DBD di masyarakat.

Di antaranya dengan membagikan bubuk abate, melakukan fogging sesuai kebutuhan dan indikasi, serta mendatangi lingkungan warga apabila ditemukan kasus DBD.

Langkah tersebut dilakukan untuk mencegah potensi penyebaran penyakit ke warga lainnya.

“Kami membagikan bubuk abate, melaksanakan fogging serta mendatangi warga jika sudah terjangkit penyakit DBD. Hal ini dilakukan agar penyakit ini tidak menyebar ke warga lain,” tegasnya.

Meski demikian, Irhan menekankan bahwa tindakan pencegahan yang paling efektif tetap membutuhkan peran aktif masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Menurutnya, masyarakat dapat melakukan langkah sederhana dengan rutin menguras tempat penampungan air, menutup wadah yang dapat menampung air dan menyingkirkan barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

Jangan Menunggu Kasus

Puskesmas Kutaraya mengajak masyarakat untuk tidak menunggu sampai ada warga yang terkena DBD baru melakukan pembersihan lingkungan.

Pencegahan harus dilakukan secara rutin dan bersama-sama, mulai dari rumah, lingkungan permukiman hingga fasilitas umum.

“Yang paling penting adalah kesadaran masyarakat. Jangan sampai setelah ada kasus baru kita bergerak. Pencegahan harus dilakukan bersama-sama dan dimulai dari lingkungan rumah masing-masing,” pungkas Irhan.

Dengan terus digencarkannya PSN, sosialisasi, pembagian abate, pemantauan lingkungan serta kegiatan kebersihan bersama, Puskesmas Kutaraya berharap potensi penyebaran DBD di wilayah kerjanya dapat ditekan.

Masyarakat juga diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami gejala yang mengarah pada DBD, sehingga dapat memperoleh pemeriksaan dan penanganan lebih cepat. (*)

By Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *