• Sosialisasi Menyasar Warga dan Sekolah, Penyuluhan Digelar dengan Mobil Keliling

Penulis: Syakbanudin

Kayuagung, Pelopor Sumatera.com – Puskesmas Celikah, Kecamatan Kayuagung, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), terus memperkuat upaya pencegahan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di wilayah kerjanya. Langkah pencegahan dilakukan secara langsung dengan menyasar masyarakat, lingkungan sekolah hingga permukiman warga.

Selain memberikan sosialisasi, petugas Puskesmas Celikah juga melakukan penyuluhan menggunakan mobil keliling untuk mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti, pembawa virus dengue.

Kepala Puskesmas Celikah, Martinawati, SKM, mengatakan berbagai langkah tersebut dilakukan sebagai upaya menekan kasus DBD sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak hanya mengandalkan penanganan medis ketika sudah terserang penyakit.

“Upaya yang kami lakukan mulai dari sosialisasi kepada warga, sekolah, penyuluhan menggunakan mobil keliling, kunjungan ke rumah-rumah warga, fogging hingga pembagian bubuk abate,” kata Martinawati.

12 Kasus hingga Juli, Semua Pasien Sembuh

Berdasarkan data Puskesmas Celikah, sejak Januari hingga Juli 2026 tercatat 12 warga yang terjangkit DBD. Seluruh pasien telah mendapatkan penanganan medis di RSUD Kayuagung dan dinyatakan sembuh.

Kasus tersebut antara lain ditemukan pada warga Desa Tanjung Lubuk, Kelurahan Sukadana, Desa Srigeni dan Desa Kijang Ulu, Kecamatan Kayuagung.

Martinawati menyebut angka tersebut menunjukkan adanya penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada periode sebelumnya, kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Celikah tercatat mencapai 27 kasus.

“Jumlah kasus tahun ini jauh menurun dibandingkan tahun lalu yang mencapai 27 kasus. Namun, kami tetap tidak boleh lengah karena DBD bisa muncul kapan saja,” tegasnya.

Pencegahan Tidak Cukup dengan Fogging

Menurut Martinawati, pencegahan DBD tidak bisa hanya mengandalkan fogging. Upaya yang paling penting justru berada di tingkat rumah tangga dan lingkungan, terutama dengan memutus tempat berkembang biaknya nyamuk.

Karena itu, petugas Puskesmas Celikah secara rutin melakukan edukasi kepada masyarakat, termasuk mengajak warga melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan menerapkan pola 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat tempat penampungan air dan memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk.

Petugas juga melakukan pemantauan lingkungan melalui kunjungan ke rumah-rumah warga serta memberikan bubuk abate pada tempat penampungan air yang diperlukan.

“Yang paling penting adalah menjaga kebersihan lingkungan. Jangan membiarkan tempat-tempat yang bisa menjadi sarang nyamuk. Pakaian juga jangan digantung terlalu lama karena bisa menjadi tempat nyamuk bersembunyi,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membiarkan kaleng, botol, ember maupun barang bekas lainnya berserakan di sekitar rumah. Barang-barang tersebut sebaiknya dikubur, dimanfaatkan kembali atau dibuang pada tempat yang tepat sehingga tidak menampung air hujan.

Waspadai Musim Hujan

Puskesmas Celikah juga mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menjelang periode hujan, terutama pada November dan Desember. Genangan air yang muncul setelah hujan dapat menjadi tempat potensial bagi nyamuk Aedes aegypti untuk berkembang biak.

Martinawati mengajak seluruh masyarakat agar tidak menunggu sampai ada anggota keluarga yang terkena DBD baru melakukan tindakan pencegahan.

“Pencegahan harus dimulai dari lingkungan rumah masing-masing. Kalau lingkungan bersih dan tempat berkembang biak nyamuk dapat dikendalikan, risiko penularan DBD juga dapat ditekan,” pungkasnya.

Puskesmas Celikah memastikan upaya edukasi dan pencegahan akan terus dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat, sekolah dan berbagai unsur di lingkungan wilayah kerja Puskesmas Celikah. (*)

By Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *