Kayuagung, Pelopor Sumatera.com — Di Hari Lahir Pancasila, ratusan kader PGK Kabupaten OKI berkumpul bukan untuk upacara formal, tapi untuk membuktikan bahwa kebangsaan paling kuat tumbuh di antara asap arang dan tawa bersama.
Asap mengepul bukan dari konflik, melainkan dari bakaran yang menghangatkan persaudaraan. Dewan Pengurus Daerah (DPD) Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) memilih cara yang tidak biasa untuk merayakan Hari Lahir Pancasila 1 Juni 2026, bukan upacara protokoler, melainkan sebuah gathering bertajuk “Bakar Jarak, Dekatkan Rasa” sebuah pesta kader yang menolak jarak, baik secara harfiah maupun simbolik.
Tema yang dipilih, “Satu Asap, Satu Rasa, Satu Keluarga di Rumah Organisasi”, bukan sekadar slogan. Di baliknya tersimpan filosofi yang menohok bahwa organisasi sejati tidak dibangun hanya melalui rapat dan laporan program kerja, melainkan juga dari keberanian untuk duduk bersama, makan bersama, dan saling mendengar tanpa sekat jabatan maupun senioritas.
“Kami ingin mempererat hubungan antar kader dan meneguhkan bahwa PGK merupakan rumah bersama yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan, kebersamaan, dan semangat kebangsaan,”Rivaldy Setiawan, S.H., Ketua DPD PGK OKI.
Rivaldy menegaskan, Hari Lahir Pancasila bukan sekadar tanggal yang dilingkari merah di kalender. “Ini adalah momentum untuk jujur: apakah kita sudah benar-benar bersatu, atau hanya bersatu di atas kertas?” ujarnya di hadapan seluruh kader yang hadir.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh kader internal DPD PGK OKI dalam suasana yang jauh dari formal. Tidak ada podium yang mendominasi, tidak ada protokol yang mengangkat jarak. Yang ada hanya lingkaran keakraban, percakapan yang jujur, dan api yang menyatukan rasa.
Dalam jangka panjang, DPD PGK OKI menyatakan komitmen untuk menjadikan model silaturahmi semacam ini sebagai agenda rutin, bukan kegiatan insidental. Bagi mereka, kaderisasi yang kuat dimulai dari hubungan manusia yang tulus: sebelum ideologi, sebelum program, ada kepercayaan yang harus dibangun satu per satu.
Di tengah polarisasi yang makin kasar di ruang publik nasional, langkah PGK OKI mungkin terdengar sederhana. Tapi justru di situlah kekuatannya bahwa persatuan bukan retorika yang ditorehkan di spanduk, ia adalah sesuatu yang dimasak pelan-pelan, bersama, di bawah satu asap yang sama. (sbn/red)
