- Aksi Perubahan PKA Angkatan II Sumsel Bidik Penguatan Kompetensi Guru dan Literasi Digital di Satuan Pendidikan
OKI, Pelopor Sumatera.com – Transformasi digital pendidikan tak cukup hanya dengan menghadirkan perangkat teknologi ke ruang kelas. Tanpa guru yang mampu menguasai dan memanfaatkannya, teknologi berpotensi hanya menjadi fasilitas yang tidak optimal.
Persoalan inilah yang coba dijawab Heri Apriyadi, ST., M.Si., melalui aksi perubahan dalam Pelatihan Kepemimpinan Administrator (PKA) Angkatan II Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2026.
Heri mengusung gagasan “Optimalisasi Kompetensi Guru melalui Program Pendampingan dan Penguatan Literasi Digital pada Satuan Pendidikan di Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Komering Ilir.
Gagasan tersebut lahir dari melihat perubahan besar yang dibawa teknologi informasi dan komunikasi terhadap dunia pendidikan. Teknologi tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi menjadi salah satu instrumen penting untuk memperluas sumber belajar, meningkatkan efektivitas pembelajaran sekaligus mendorong lahirnya proses belajar mengajar yang lebih kreatif dan inovatif.
Namun, tantangannya adalah kemampuan guru dalam memanfaatkan teknologi pembelajaran masih belum optimal, khususnya pada satuan pendidikan yang menghadapi keterbatasan akses dan fasilitas digital. Di titik inilah aksi perubahan Heri diarahkan.
Guru Jadi Kunci Transformasi Digital
Program yang dirancang tidak berhenti pada pelatihan satu kali. Pendekatan yang ditawarkan adalah pendampingan dan penguatan kompetensi secara bertahap, sehingga guru tidak hanya mengenal teknologi, tetapi mampu menggunakannya dalam proses pembelajaran.
Dalam jangka pendek, selama 0–2 bulan, program diarahkan pada pemetaan kebutuhan, penyusunan program, pembentukan tim pendamping dan koordinator, serta pelaksanaan pelatihan dasar literasi digital bagi guru sasaran.
Memasuki jangka menengah 2–6 bulan, pendampingan akan diarahkan pada implementasi pembelajaran digital, monitoring dan evaluasi, peningkatan kemampuan guru dalam menggunakan perangkat maupun aplikasi pembelajaran, hingga kemampuan menghasilkan media pembelajaran digital dan melaksanakan asesmen berbasis teknologi.
Sedangkan dalam jangka panjang, 6–12 bulan dan berkelanjutan, sasaran utamanya adalah membangun budaya literasi digital di satuan pendidikan.
Harapannya bukan sekadar guru mampu mengoperasikan perangkat, tetapi tercipta pembelajaran berbasis teknologi yang berlangsung secara konsisten dan memberikan dampak terhadap mutu layanan pendidikan serta hasil belajar peserta didik.
Ketika Sekolah Didorong Masuk Era Digital
Aksi perubahan tersebut menjadi semakin relevan di tengah arah kebijakan pemerintah yang mendorong percepatan digitalisasi pendidikan.
Dalam materi PKA, disebutkan arah penguatan digitalisasi sekolah, termasuk dukungan perangkat Interactive Flat Panel (IFP), pengembangan studio pengajaran terpusat untuk menyediakan konten pembelajaran berkualitas, serta upaya menghadirkan akses internet yang lebih baik di sekolah.
Artinya, transformasi digital pendidikan membutuhkan dua hal yang harus berjalan beriringan yakni infrastruktur dan sumber daya manusia.
Perangkat boleh semakin canggih. Platform digital boleh semakin banyak. Namun, kualitas pembelajaran tetap sangat bergantung pada kemampuan guru mengubah teknologi tersebut menjadi alat pembelajaran yang benar-benar bermanfaat bagi peserta didik.
Karena itu, penguatan kompetensi guru menjadi salah satu titik penting dalam rancangan aksi perubahan Heri Apriyadi.
Dari Pelatihan Menuju Budaya Digital
Heri tidak hanya menargetkan manfaat bagi guru. Aksi perubahan ini dirancang memberikan manfaat berjenjang bagi Dinas Pendidikan Kabupaten OKI, satuan pendidikan, guru, peserta didik hingga pemerintah daerah.
Bagi organisasi, program diharapkan memperkuat tata kelola dan kapasitas pendampingan. Bagi guru, program diarahkan untuk meningkatkan kompetensi digital. Sementara bagi satuan pendidikan, pemanfaatan fasilitas digital yang telah tersedia diharapkan semakin optimal.
Pada akhirnya, peserta didik menjadi salah satu penerima manfaat utama melalui proses pembelajaran yang lebih efektif, kreatif dan inovatif.
Bukan Sekadar Proyek Perubahan
Jika dijalankan secara konsisten, aksi perubahan ini berpotensi menjadi lebih dari sekadar pemenuhan tugas dalam pendidikan kepemimpinan.
Gagasannya menyentuh persoalan nyata dalam transformasi pendidikan bagaimana memastikan investasi teknologi benar-benar menghasilkan perubahan di ruang kelas.
Karena itu, keberhasilan program tidak hanya diukur dari berapa banyak guru yang mengikuti pelatihan, tetapi dari seberapa jauh kompetensi tersebut diterapkan dalam pembelajaran.
Ruang lingkup aksi perubahan sendiri dirancang secara bertahap, mulai dari pemetaan kebutuhan dan pembentukan tim, pendampingan serta implementasi pembelajaran digital, hingga penguatan budaya literasi digital, replikasi program dan integrasi ke dalam program kerja Dinas Pendidikan.
Dengan pendekatan tersebut, Heri Apriyadi mendorong agar digitalisasi pendidikan di OKI tidak berhenti di layar perangkat, tetapi benar-benar hadir dalam kualitas pembelajaran.
Sebab, pada akhirnya, teknologi hanyalah alat. Guru tetap menjadi penggerak utama perubahan pendidikan. (*)
Penulis/ Editor : Syakbanudin
