OKI, Pelopor Sumatera.com — Pergantian kepemimpinan di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) memunculkan dinamika politik yang menjadi perhatian publik. Terpilihnya Farid Hadi Sasongko sebagai Ketua DPC PKB OKI periode 2026–2031 sekaligus posisinya sebagai Ketua DPRD OKI dinilai menjadi fase baru perjalanan politik partai tersebut.
Namun di balik pergantian kepemimpinan itu, muncul beragam pandangan terkait posisi HM Dja’far Shodiq, figur senior yang selama ini dikenal sebagai salah satu tokoh sentral dalam perjalanan PKB OKI. Penempatannya sebagai Ketua Dewan Syuro memunculkan interpretasi berbeda di tengah masyarakat dan kader.
Sebagian kalangan menilai keputusan tersebut merupakan bagian dari proses regenerasi politik yang lazim terjadi di tubuh partai. Akan tetapi, tidak sedikit pula yang mempertanyakan dinamika pergantian kepemimpinan tersebut, mengingat kedekatan historis dan hubungan politik antara Farid dan Shodiq selama ini.
Di mata publik OKI, nama Dja’far Shodiq bukan sosok baru dalam perjalanan PKB. Ia dikenal memiliki kontribusi besar dalam membangun kekuatan partai di daerah, termasuk dalam proses kaderisasi sejumlah figur politik yang kini berada di posisi strategis.
Karena itu, perubahan komposisi kepemimpinan partai memunculkan diskursus publik mengenai bagaimana proses regenerasi idealnya berlangsung—terutama dalam menjaga keseimbangan antara semangat pembaruan dan penghormatan terhadap figur senior yang memiliki rekam jejak panjang.
Pengamat politik lokal menilai, dalam dinamika politik daerah, aspek komunikasi dan penghormatan simbolik sering kali menjadi faktor penting dalam menjaga soliditas internal partai. Pergantian kepemimpinan yang tidak dikelola secara tepat dapat dengan mudah memunculkan persepsi adanya friksi atau ketegangan politik, meskipun di internal partai belum tentu demikian.
Menanggapi berbagai sorotan tersebut, Farid Hadi Sasongko sebelumnya menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepadanya sebagai Ketua DPC PKB OKI.
“Kepercayaan ini adalah amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Saya mengucapkan terima kasih kepada DPP PKB, DPW PKB Sumsel, para kader, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan. Ke depan, fokus kami adalah menjaga soliditas partai, memperkuat komunikasi dengan masyarakat, dan melanjutkan perjuangan politik PKB demi kepentingan rakyat,” ujar Farid, Jumat (12/06/2026).
Farid juga menegaskan bahwa keberadaan HM Dja’far Shodiq sebagai Ketua Dewan Syuro tetap menjadi bagian penting dalam perjalanan PKB OKI ke depan.
“Kita harus tetap kompak dan menjaga semangat kebersamaan. Kehadiran HM Dja’far Shodiq sebagai Ketua Dewan Syuro tentu menjadi kekuatan tersendiri bagi PKB OKI. Pengalaman dan kapasitas beliau akan menjadi modal penting dalam membimbing serta mengawal perjalanan partai ke depan,” katanya.
Meski demikian, perdebatan di ruang publik tampaknya masih akan terus berlangsung. Sebab, dalam politik, yang kerap menjadi perhatian bukan hanya soal siapa yang menang atau memimpin, tetapi juga bagaimana proses transisi itu dijalankan dan dipersepsikan oleh publik.
Pada akhirnya, dinamika di tubuh PKB OKI ini menjadi ujian tersendiri bagi kepemimpinan baru Farid Hadi Sasongko, apakah mampu menjaga soliditas sekaligus merawat hubungan politik dengan para senior partai, atau justru membiarkan persepsi publik berkembang tanpa penjelasan yang memadai. (sbn)
